Rabu, 06 Februari 2013

Aku terlahir di sebuah kampung bernama, kampung Pasir di sebuah desa yang lumayan jauh dari hiruk pikuk kehidupan kota, Desa Cintakarya nama desa yang memang banyak mencetak orang-orang yang ikut kontribusi membangun negara ini, kecamatan Samarang, yang kadang menjadi candaan orang banyak karena hampir sama dengan nama ibu kota Jawa Tengah "Semarang", lucunya katanya merupakan nama kecamatan plesetan sunda "Se" jadi "Sa" , Semarang jadi Samarang. Dan Kecamatan Samarang ini berada di Kabupaten Garut, kota yang terkenal dengan buah Jeruknya yang sudah punah karena akibat dari bencana meletus nya gunung Galunggung, di tahun 1982.

Aku lahir pada tanggal 14 Juni 1979, 31 tahun silam, dan aku terlahir disaat bapak benteng keluargaku mulai memiliki rumah tempat tinggal , bapakku bilang bahwa beliau sudah mulai berani melakukan Evolusi hidup, memisahkan tempat hidup dengan "kandang" mertua.
Waktu aku lahir, informasi dari orang tuaku bahwa aku beda dengan kakakku, aku lahir di rumah sakit termegah di kota Garut, di rumah sakit Dr. Slamet. Artinya (Bapakku menambahkan) kalau aku sajalah yang tidak lahir oleh dukun beranak (Paraji sebutan orang sunda). Karena kakakku terlahir di rumah dan di bantu prosesnya oleh dukun beranak. Kemudian selain itu aku lahir pun yang langsung mendapatkan Akte Kelahiran yang pada saat itu memang baru pertama kali pihak Rumah Sakit membantu pembuatan Akte Kelahiran, dimana saat ini hal itu sudah tidak heran lagi.

Namaku Teten Iman Firmansyah, nama Teten dibubuhkan di awal namaku, berawal dari permintaan nenekku, karena asalnya ibuku mau memberiku nama Iman Firmansyah, tapi nenekku bersikukuh memohon memasukan nama "Oteng", ya teranglah ibuku menolak, menamai anaknya Oteng, alasannya aneh dan kampungan sekali, maka dengan hasil pengolahan bapak, ibu dan nenek maka muncullah nama, Teten. Dan Iman Firmansyah sebuah nama pengulangan yang kerap di munculkan nama-nama sunda, misal Imas Masitoh, Ipan Saripan, Susan Susanti, Ini Gustini, dan nama-nama lain yang masih sering ditemukan nama-nama orang sunda.

Aku mulai mengenal wujudku di usia 4 tahun (kira-kira seperti itu), dulu tubuhku kurus sangat kurus, maka dikeluargaku aku di ejek dengan nama Kampeng (kurus kering) atau Kueng (ntahlah dari mana asal kata-kata itu) tapi kata-kata itu seolah mendiskripsika bahwa aku itu memang kurus banget. Aku merasa sangat malu dan minder berbadan kurus, karena sering di ejek oleh kakakku dan teman-teman sepermainan. Selain itu aku di ejek oleh ibuku si Eulay (kalau aku menangis, tubuhku seperti "ngulet"). jadi tiga nama yang selalu di sebutkan oleh kakakku kalau kami berantem Eulay, Kueng dan Kampeng. Tiga nama itu yang aku jauhkan dari telinga karena sakit hati (dulu waktu kecil).

Aku mulai Sekolah Dasar, di usia 4,5 Tahun waktu itu, hanya saja mungkin di usia itu aku merasa masih "pi-indung" atau masih tidak bisa lepas dari ibu, jadi waktu aku sekolah aku kerap ingin pulang rumah, alhasil aku tidak meneruskan sekolahku, aku lebih memilih dekat sama ibu dan berada di sisinya,  tidak mau meninggalkan menghabiskan waktu bersama ibuku tercinta. Di usia itu (dan memang sampai sekarang) aku belum bisa melepaskan kebiasaan "ngendus" tangan ibu, kebiasaan itu aku lakukan jika ibuku lagi relax maka aku tidur dipangkuan ibu dan memegang tangan dan mengendus tangannya. Maka hal itu juga yang menghambat aku seharusnya bisa bersekolah diusia itu.